empty
10.09.2026 12:20 PM
Emas melonjak ke $4.420 saat minyak menyentuh $100 dan badai geopolitik mengamuk

This image is no longer relevant

Hari Kamis membawa kebangkitan yang telah lama dinantikan di pasar logam mulia. Emas, seolah-olah merasakan kelemahan dolar AS, bergerak kembali mendekati level psikologis penting di $4.420 per troy ounce. Namun para pelaku pasar yang lebih dulu optimistis belum bisa bersorak: rilis data inflasi yang akan keluar pekan ini bisa menjadi penentu kebijakan The Fed, sementara latar belakang makroekonomi dan geopolitik masih belum stabil.

Hingga Kamis pagi, emas spot (XAU/USD) menguat 0,4%, diperdagangkan di $4.418,87. Kontrak futures juga mencatat kenaikan tipis ke $4.461,82. Silver (XAG/USD) tampak lebih kokoh, melonjak 0,5% ke $67,62, sementara platinum (XPT/USD) melemah ke $1.889,34. Indeks dolar (DXY) pada saat yang sama terkoreksi, turun ke 98,74.

Mengapa emas belum melesat? Jawabannya ada pada yield US Treasury. Upaya pemerintah untuk membeli surat utang jangka panjang senilai $6 miliar tidak mampu menopang pasar — yield justru bergerak naik. Bagi emas, yang tidak memberikan bunga, kenaikan yield selalu menjadi semacam "mandi air dingin".

Pasar komoditas turut menambah kegelisahan. Brent crude kembali menembus batas psikologis $100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli, memaksa investor kembali mengingat risiko inflasi.

Faktor geopolitik juga membuat pasar tetap waspada. Konflik di Timur Tengah telah memasuki bulan ketujuh. Tehran secara terbuka memperingatkan bahwa jika serangan terhadap wilayah dan infrastruktur Iran oleh AS terus berlanjut, kawasan tersebut bisa mengalami eskalasi dengan intensitas yang lebih besar lagi. Investor harus menyeimbangkan keinginan jangka panjang untuk "menyembunyikan" modal di emas dengan risiko jangka pendek yang ada.

This image is no longer relevant

Semua perhatian kini tertuju pada kalender data. Kamis akan dirilis Producer Price Index (PPI), dan Jumat menyusul Consumer Price Index (CPI). Data ini akan menjadi ujian utama bagi Fed. Pasar saat ini sudah mematok perkiraan sekitar 65% kemungkinan bahwa Fed akan menaikkan suku bunga kebijakan bulan ini.

Senior market analyst IG, Tony Sycamore, menyoroti gambaran yang terkesan paradoks: harga emas naik ke $4.402 semalam hampir sepenuhnya karena pelemahan dolar, meskipun imbal hasil obligasi melonjak.

Namun, Sycamore mengatakan logam mulia ini perlu menembus rata-rata pergerakan 200 hari di kisaran $4.537 untuk mengonfirmasi pembalikan tren dan kembali ke tren naik yang lebih luas (setelah koreksi dari level tertinggi $4.697).

Ketika trader ritel sibuk menghitung imbal hasil obligasi, market maker justru membeli emas fisik. Menurut World Gold Council, Agustus lalu bersifat historis: ETF emas global menarik dana masuk sebesar $18 miliar (aliran masuk terbesar kedua yang pernah tercatat).

Kepemilikan fisik naik 121 ton ke rekor 4.189 ton, dan total asset under management melonjak 16% menjadi $615 miliar. Reksa dana Eropa membukukan aliran dana masuk tertinggi sepanjang masa, sementara reksa dana Amerika Utara mencatat aliran masuk terbesar ketiga dalam sejarah. Jelas, smart money sedang berpihak pada logam kuning ini.

Andreeva Natalya,
Analytical expert of InstaTrade
© 2007-2026

Recommended Stories

Tidak bisa bicara sekarang?
Tanyakan pertanyaan anda lewat chat.